Kemunafikan. Kata ini
selalu mengganggu saya akhir-akhir ini. Entah mengapa, setiap sedang
merenung atau sedang berpikir, selalu saja kata itu muncul dan akhirnya,
saya pun mulai berpikir tentang itu, hingga akhirnya, terciptalah
tulisan ini, sebuah tulisan tentang kemunafikan. Dan mungkin, akan ada
satu-dua tulisan lainnya tentang kemunafikan yang akan saya buat. Jadi,
mohon maaf apa bila ada yang tersinggung atau merasa tidak sependapat
dengan apa yang akan saya katakan lewat tulisan ini. Perbedaan itu
wajar, bukan ? hehehe..
Jadi begini, menurut
saya, setiap orang itu pasti pernah terjebak dalam satu hal yang bernama
kemunafikan. Kemunafikan itu sendiri dapat berupa banyak hal. Ada
kemunafikan yang memang sudah munafik sejak awalnya atau jelas-jelas
munafik, ada juga kemunafikan yang sekilas terkesan tidak munafik atau
bahkan terkesan baik. Ini saya sebut sebagai kemunafikan terselubung.
Yang pada akhirnya membedakan orang-orang tersebut adalah, apakah
mereka, pribadi lepas pribadi, memutuskan untuk mendobrak keluar dari
kemunafikan itu, atau justru membiarkan dirinya terjebak dalam
kemunafikan tersebut. Atau bahkan menikmati hal itu.
Setiap orang itu
(pernah) munafik. Entah itu kemunafikan yang nyata atau yang
terselubung. Saya tidak ingin bicara tentang orang-orang yang terjebak
dalam kemunafikan yang nyata. Toh, kalau mereka tetap berada disana, itu
berarti mereka sendiri yang memutuskan untuk tetep munafik, bukan ?
Yang ingin saya bicarakan disini adalah sebuah kemunafikan yang lebih
berbahaya. Sebuah kemunafikan yang terkesan tidak munafik atau bahkan
baik. Sebuah kemunafikan dimana orang orang yang terjebak didalamnya
tidak merasa munafik. Jadi, ini adalah sebuah kemunafikan yang
terbungkus dalam kemunafikan lainnya, atau dapat juga dikatakan sebagai
kemunafikan yang munafik.
Nah, kemunafikan jenis
ini, yaitu kemunafikan yang munafik, terdapat dalam banyak hal :
kebiasaan, formalitas, keklisean cara berpikir, dll. Yang ingin saya
bahas disini adalah sebuah kemunafikan yang terselubung dalam topeng
“keadilan”. Bukan “keadilan” nya yang munafik, tapi orang-orangnya yang
menjadikan “keadilan” sebagai sebuah topeng kemunafikan mereka.
Pertanyaan yang
mendasarinya adalah, sebetulnya apa sih konsep dasar dari “keadilan” itu
? Menurut saya, keadilan pada dasarnya adalah kesesuaian proporsi.
Maksudnya adalah, jika ada dua orang, katakanlah si A dengan si B,
membuat usaha bersama. Si A menanamkan modal sebesar 70 %, sementara si B
Cuma 30%, maka, adilnya, ketika ada keuntungan, si A berhak mendapatkan
70% dari keuntungan itu, dan si B dapat 30%, bukan ? Jadi, adil itu
bukannya melulu 50%-50%. Disinilah kebanyakan orang salah kaprah.
Nah, sekarang kembali lagi ke topik, seberapa banyak sih diantara kita yang pernah dengar seseorang bicara sepert ini :
“Tuhan, Engkau, ya Tuhan, sungguh tak adil. Engkau hanya memberikan
kesusahan demi kesusahan dalam hidupku,” dsb. Saya yakin sekali banyak
diantara kita yang sering dengar orang bicara seperti itu terhadap
Tuhan, atau bahkan memaki-maki Tuhan, menggugat Tuhan dengan gugatan
itu. Atau jangan-jangan kita sendiri juga sering bicara seperti itu ?
Ya, lupakanlah. Saya
tidak akan memfokuskan pembahasan pada orang-orang yang berbicara
seperti itu. Dan memang sebetulnya mereka tidak salah, karena memang
udah menjadi budaya yang mainstream apabila ada orang-orang yang bicara
seperti itu. Masalahnya mungkin belum ada atau mungkin sedikit orang
yang berpikir tentang itu. Atau memang justru sayanya saja yang lagi
kurang kerjaan, insomnia sampai pagi dan tiba tiba berpikir tentang itu.
Entahlah… hehehehe… Tapi yang jadi fokus saya adalah, apa yang
sesungguhnya mendasari orang-orang dapat berbicara seperti itu ?
Biasanya, orang orang
yang bicara seperti itu adalah orang-orang yang hidupnya sedang
dirundung penderitaan demi penderitaan. Mereka bisa sampai bicara
seperti itu karena mereka merasa Tuhan selalu saja memberiksan
penderitaan demi penderitaan dala hidupnya, dan tak pernah memberikan
kebahagiaan. Padahal, bukankah memang seperti itulah hidup ? Manusia tak
akan selamanya menderita. Ya, karena dalam perjalanan menuju sebuah
kebahagiaan, ada proses-proses yang harus dilewati. Dan terkadang proses
itu menyakitkan.
Nah, disinilah lucunya.
Orang bicara Tuhan tidak adil karena mereka merasa sedang dirundung
penderitaan demi penderitaan, bukannya diberikan kebahagiaan demi
kebahagiaan. Yang lucunya adalah, bukankah dengan logika yang sama,
dengan cara berpikir yang sama, seharusnya orang orang tersebut juga
mengeluh dan memaki-maki Tuhan dengan sebutan tidak adil ketika mereka
sedang diberikan banyak kebahagiaan ? Seharusnya mereka juga bicara
seperti ini : “ Tuhan, engkau sungguh tak adil. Kenapa
dalam hidupku ini selalu saja Engkau berikan kebahagiaan. Kapan Engkau
akan memberikan kesedihan kepadaku ? “ Tapi pada kenyataannya, tidak
pernah, bukan, orang mengeluh seperti itu ?
Satu hal yang saya
tangkap disini adalah kenyataan bahwa ternyata orang-orang tersebut
menggunakan kata “keadilan” semata-mata sebagai sebuah senjata untuk
membela keegoisan mereka. Mereka hanya menginginkan
kebahagiaan. Jadi, bukan “keadilan” yang mereka cari, hanya kebahagiaan-
kebahagiaan pribadi dan demi ego masing-masing sehingga mereka
menggunakan kata “keadilan” itu hingga berbenturan dengan esensi dari
kata itu sendiri. Nah, disanalah letak dimana kemunafikan itu
terselubung.
Disisi lain, saya ingin
berkata bahwa, ketika dalam hidup kita ini lebih sering mendapatkan
kesusahan daripada kebahagiaan, sesungguhnya hidup ini sudah cukup adil
(kalau memang benar keadilanlah yang kita cari). Mengapa ? jadi begini,
sesuai dengan konsep keadilan yang tadi telah saya sampaikan à
kesesuaian proporsi. Siapa yang berani berkata bahwa dalam hidupnya,
dia telah lebih banyak berbuat baik darpiada berbuat kurang baik ? kalau
mau dipersentasikan, saya yakin kadar kebaikan kita tidak lebih besar
dari kadar ketidak-baikan kita. Kasarnya, seberapa banyak dari kita yang
ketika berbuat baik itu benar-benar baik ? Maksudnya adalah, ketika
kita melakukan perbuatan-perbuatan baik itu tanpa ada hal-hal lain
dibalik itu semua ? Entah itu agar dilihat orang, atau demi pencitraan,
atau mungkin demi menarik perhatian dari orang yang kita suka ? Intinya,
seberapa banyak dari kita yang ketika berbuat baik tanpa mempunyai
maksud terselubung di belakangnya ? Jadi, kalau kita lebih banyak
menderita daripada bahagianya, hidup itu sudah cukup adil, bukan ?
Sekarang izinkan saya
bicara tentang Tuhan, secara universal. Se-universal ketika kita bicara
tentang Tuhan ketika kita mengkambinghitamkanNya atas penderitaan kita,
dengan kata “keadilan” tadi. Tuhan, secara universal, yang di hampir
semua agama dianggap sebagai tokoh tertinggi dalam kehidupan dan dunia,
adalah sesosok Pribadi yang sangatlah sempurna : Baik, Kaya,Maha
Memberi, Maha Mengampuni, dll. Nah, dengan pemahaman seperti itu, kita
dapat simpulkan dia sangatlah baik, bukan ? Pemahaman ini berdasarkan
ajaran-ajaran agama, karena pemahaman kita tentang Tuhan yang mainstream
hanya dapat kita ketahui berdasarkan ajaran-ajaran agama.
Nah, sekarang coba bayangkan, Tuhan yang begitu baik, yang sebegitu baiknya kepada kita à
memberi berkat, karunia, rahmat, nikmat, dsb, justru kita maki-maki,
justru kita hujat sedemikian rupa dengan sebutan tidak adil dan
semacamnya, demi ego kita. Gila segila-gilanya, kawan !! Coba bayangkan,
bukankah ketika kita memaki-maki dan menghujat sesosok
Pribadi yang sudah begitu baiknya kepada kita, dengan sebutan tidak
adil, justru di titik itulah kita yang sedang berbuat tidak adil
kepadaNya ???
Pada akhirnya, yang
saya harapkan adalah, semoga kita bisa melepaskan dan mendobrak
kemunafikan kemunafikan, setidaknya pada yang saya sampaikan pada
tulisan ini , agar dunia kita boleh lebih tidak munafik dari sebelumnya.
Terima kasih.
0 komentar:
Posting Komentar